TRADISI KENDURI DARI JAWA

TRADISI KENDURI DARI JAWA

Oleh: Putri Cahya Ramadhanti

Adat istiadat merupakan kebiasaan bersama dari suatu kelompok secara turun-temurun. Indonesia sebagai negara yang terdiri dari pulau-pulau, memiliki banyak sekali adat istiadat di setiap daerahnya. Salah satu adat istiadat yang akan saya bahas kali ini adalah tradisi kenduri di kampung halaman saya, Boyolali, Jawa Tengah.

    Kenduri atau kenduren merupakan yang erat kaitannya dengan upacara selametan. Sehingga bisa dikatakan bahwa kendurenan juga merupakan bagian dari selametan atau pun juga keduanya adalah hal yang sama. yakni kegiatan berdoa bersama yang dihadiri oleh masyarakat kampung setempat. Di kampung saya, acara kenduri dilakukan di sebuah lapangan besar yang dekat dengan pemakaman umum desa setempat. Para warga yang datang umumnya adalah kepala keluarga, dengan membawa setampah bambu besar yang berisikan nasi tumpeng beserta lauk-lauk pendampinya seperti ayam, tahu, tempe, dan sebagainya. Acara kenduri ini banyak sekali jenisnya. Ada kenduri selapan untuk mendoakan anak yang baru lahir, kenduri munggahan yaitu untuk menaikkan para leluhur, kenduri suronan yang biasa dilaksanakan pada tanggal 10 suro, dan masih banyak lagi. Namun, dalam artikel ini saya akan membahas tentang kenduri badan yang dilaksanakan pada hari pertama Raya Idul Fitri. Tujuan dari kenduri badan yaitu untuk menurunkan leluhur agar dapat bertemu dan bertegur sapa. Sebelum dilakukannya kenduri badan, biasanya diawali dengan menyekar ke makam keluarga atau nyadran. Oleh karena itu, biasanya kegiatan kenduri dilakukan di tempat pemakaman.



    Setelah selesai menyekar, warga berkumpul di lapangan untuk melanjutkan acara doa bersama yang akan dipimpin oleh tokoh yang dituakan di desa tersebut atau seorang ustadz yang akan diikuti oleh warga yang hadir. Doa bersama yang dilaksanakan ini merupakan permohonan agar dosa-dosa orang yang didoakan mendapat ampunan dari Tuhan. Setelah selesai berdoa, selanjutnya adalah kegiatan memakan makanan yang dibawa dari rumah. Biasanya, orang-orang hanya memakan sedikit dan bertukar-tukar lauk ketika di lapangan, karena akan dilanjutkan dengan makan bersama dengan anggota keluarga lainnya di rumah. Di kampung halaman saya, kegiatan kenduri biasanya dihadiri hingga 500 orang, jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat menjadi ajang bersosialisasi dan bersilahturami.

    Banyak orang berpendapat bahwa tradisi kenduri merupakan salah satu hasil dari Walisongo ketika mengenalkan Islam kepada masyarakat Jawa dengan menggunkan kebiasaan yang sudah ada. Namun, menurut ahli sejarah, Agus Sunyoto, tradisi kenduri berasal dari tradisi orang Muslim Campa (Kamboja) dengan paham Syiah Persia yang mengungsi ke Jawa pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi. Hal ini diperkuat dengan penyebutan istilah kenduren atau kenduri yang diyakini berasal dari Bahasa Persia, yaitu Kanduri, yang berarti upacara makan-makan saat memperingati Fatimah Az Zahroh, putri Nabi Muhammad SAW. Selain itu, dalam ajaran Hindu dan Budha juga tidak dikenal peringatan kematian pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000.

 

Sumber:

https://santossalam.blogspot.com/2019/05/tradisi-kenduren-tujuan-dan-asal-usulnya.html

http://tridarmawirajaya.desa.id/2017/12/31/budaya-kendurenan-ajang-silaturahmi/

Comments